Statistik: Begini Masalah Liverpool dengan Situasi Bola Mati

Kabar Olahraga – Analis Adam Bate memaparkan kelemahan-kelemahan Liverpool saat berhadapan dengan situasi bola mati (set piece). Menurutnya, laga tandang menghadapi West Bromwich Albion akan menjadi tes bagi The Reds.

Kegagalan Liverpool dalam menghadapi bola-bola mati bukanlah masalah baru. Pada 2014, The Reds asuhan Brendan Rodgers kebobolan dua gol dari situasi bola mati saat menghadapi Queens Park Rangers. Sampai-sampai Jamie Carragher menyebutnya sebagai ‘tim terburuk di liga’ untuk urusan bertahan dari situasi bola mati.

Tiga tahun berjalan, kelemahan tersebut masih saja terjadi. Terakhir terjadi pada awal bulan April, tim asuhan Jurgen Klopp dijebol oleh sontekan Matthew Pennington setelah bola sepak pojok gagal dihalau oleh para pemain Liverpool.

Liverpool pun menjadi tim enam besar yang paling banyak dibobol dari situasi sepak pojok di musim 2016-17. Ada enam gol yang bersarang di gawang Liverpool dalam 32 pertandingan musim ini.

Liverpool have conceded more goals from corners than any other top-six side

Ini menjadi faktor yang berpengaruh pada kesulitan mereka menghadapi tim-tim papan bawah. Terbukti, empat dari enam gol via sepak pojok itu terjadi saat menghadapi Hull City dan Swansea City. Pada dua pertandingan tersebut Liverpool kalah.

Laga tandang ke kandang West Brom pada pekan ini menjadi ujian berat bagi Liverpool. Pasalnya, tim asuhan Tony Pulis adalah tim dengan statistik terbaik untuk urusan mencetak gol lewat set piece. Total 18 gol mereka cetak dari set-plays musim ini, terbanyak dari seluruh tim Premier League.

West Brom have scored more goals from set-pieces than any other team

Pada pertandingan pertama kedua tim di Anfield, Gareth McAuley sukses membobol gawang Loris Karius dari situasi sepak pojok.

Klopp bertekad mencari solusi dari masalah ini agar misinya untuk lolos ke Liga Champions terwujud.

“Kami harus lebih kreatif. Di Dortmund kami lebih sering melakukan man marking karena kami punya lebih banyak pemain tinggi. Di sini, kami harus menemukan solusi yang berbeda,” ujarnya.